- Pulihkan Akses 3 Desa Langkat, PTPN Group Sinergi Lintas Instansi Bangun Jembatan Bailey
- Kunjungi PT SPMN, Direktur Keuangan & Manajemen Risiko PTPN III (Persero) Dorong Peningkatan Mutu La
- Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Kebersamaan Lewat Safari Ramadan PTPN I Regional 7 di Tulungbu
- Holding Perkebunan Nusantara Hadirkan Destinasi Wisata Berbasis Kemitraan di Lampung Selatan
- Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Integritas Lewat Program “Kasmaran” PTPN I
- Aksi Bersih Lingkungan PalmCo, Wujud Komitmen Holding Perkebunan Nusantara Menuju Indonesia Asri
- Perkuat Pengamanan Aset HGU, PTPN Group Gandeng Kejati Lintas Provinsi
- Holding Perkebunan Nusantara Selaraskan Strategi TI 2026 Lewat FGD Terintegrasi
- Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV Regional V Bahas Hilirisasi Ayam Terintegrasi Bersama D
- Ikuti Rakor Pemasaran PTPN Group 2026, PT KBPN Dukung Penyempurnaan Tata Kelola
Holding Perkebunan Nusantara Hadapi Dampak Insiden Kaligedang terhadap Buruh dan Citra Bondowoso Rep

BONDOWOSO – Insiden
perusakan 150 ribu batang tanaman kopi milik PTPN I Regional 5, bagian dari Holding Perkebunan Nusantara (PTPN
III Persero), di Desa Kaligedang, Kecamatan Sempol, Bondowoso, Jawa Timur,
menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan.
Peristiwa yang sempat
memicu aksi massa di Polsek Sempol pada 17 November 2025 itu tidak hanya
merugikan perusahaan lebih dari Rp4,5 miliar, tetapi juga mengganggu
kesejahteraan lebih dari 3.500 buruh serta mencoreng citra Kabupaten Bondowoso
yang dikenal dengan tagline “Bondowoso Republik Kopi (BRK)”.
Baca Lainnya :
- PTPN I, Subholding PTPN III (Persero) Punya Infrastruktur Paling Mapan untuk Klaster Produksi Daging0
- PT RPN Gelar Outlook Perkebunan 2026: Antisipasi Tantangan Global dan Dorong Hilirisasi Komoditas0
- Holding Perkebunan Nusantara Melalui PTPN IV Regional 4 Bangun Ruang Kelas Madrasah di Muaro Jambi0
- Holding Perkebunan Nusantara Dukung PTPN IV Regional 4 dalam Pembinaan UMKM di JKI Medan 20250
- Virtue IV PTPN IV PalmCo: Spiritualitas dan Budaya Kerja Diperkuat di Bawah Holding Perkebunan Nusan0
Pengamat sosial dari
Universitas Muhammadiyah Jember, Iffan
Gallant El Muhammady, menegaskan bahwa insiden tersebut memiliki
implikasi yang jauh lebih luas dibanding sekadar tindak pidana perusakan.
“Insiden pada 17
November yang dipicu tindak pidana perusakan tanaman kopi milik PTPN I Regional
5 itu jangan dianggap remeh. Dampak negatifnya akan sangat luas, bukan hanya
kerugian perusahaan yang katanya lebih dari Rp4,5 miliar. Ingat, di situ ada
ribuan buruh yang pendapatannya macet, citra daerah Bondowoso Republik Kopi
tercoreng, dan jalur pariwisata Ijen yang berada di kawasan itu pasti akan
terganggu,” ujarnya, Selasa (25/11/2025).
Ketua Program Studi
Ilmu Pemerintahan FISIP UMJ tersebut menyebut terhentinya pendapatan ribuan
buruh sebagai dampak paling krusial. Menurutnya, variabel pemenuhan kebutuhan
dasar warga memiliki ambang toleransi paling tipis sehingga potensi
instabilitas sosial harus mendapat perhatian serius.
“Kalau mau dikaji lebih
dalam, sebenarnya dampaknya sangat luas lagi. Tetapi yang paling krusial
sehingga harus segera ada penanganan serius dari parapihak adalah soal nasib
buruh. Soalnya ini kan masalah perut. Ini bisa melebar ke mana-mana,” tuturnya.
Selain aspek
kesejahteraan, Iffan menilai insiden tersebut kini berkembang menjadi krisis
sosial yang dapat merusak kepercayaan investor, mengganggu reputasi BRK, hingga
menurunkan minat wisatawan yang menggunakan jalur Bondowoso menuju Kawah Ijen.
“Kerugian lainnya lebih
bersifat intangible asset, seperti citra daerah, kepercayaan investor, hingga
enggannya wisatawan ke Paltuding lewat jalur Bondowoso. Ini butuh waktu lama
untuk memulihkan,” ujar alumnus Program Doktor Ilmu Sosial Universitas
Airlangga itu.
Ia menegaskan perlunya
pendekatan yang menahan eskalasi dan menghindari narasi yang memperuncing
ketegangan. “Pelabelan warga sebagai ‘perusuh’ hanya memperlebar jurang sosial
dan menutupi persoalan struktural. Pemerintah dan aparat harus benar-benar
berada di tengah. Negara tidak boleh terlihat berpihak karena yang
dipertaruhkan adalah penghidupan ribuan buruh dan stabilitas kawasan,”
tegasnya.
Iffan juga mengingatkan
potensi terjadinya konflik horizontal, terutama antara buruh yang kehilangan
pendapatan dan warga yang meyakini lahan hortikultura mereka akan
“ditertibkan”. “Ini berbahaya, karena menggeser persoalan dari kegagalan tata
kelola menjadi benturan antarwarga,” ujarnya.
Dampak pada sektor
pariwisata, menurutnya, juga tidak boleh diabaikan. “Konflik terbaru ini
memperkuat persepsi bahwa jalur Bondowoso menuju Kawah Ijen kurang aman dan
kurang kondusif. Kondisi ini akan menambah berat beban ketika pemerintah sedang
mengampanyekan jalur Bondowoso menuju Paltuding lebih menarik,” jelasnya.
Bagi investor, insiden
tersebut menjadi sinyal adanya masalah tata kelola. “Kerugian Rp4,7 miliar yang
dialami PTPN I Regional 5 dan terhentinya pendapatan 3.500 orang adalah sinyal
bahwa ada masalah serius dalam relasi perusahaan, warga, dan komunikasi publik.
Jika pemerintah hanya merespons secara jangka pendek, investor akan membaca
konflik ini sebagai pola yang bisa terulang,” ujarnya.
Meski demikian, Iffan
menilai momentum ini dapat menjadi titik balik jika pemerintah daerah dan
perusahaan mengambil langkah perbaikan sistemik. “Transparansi, audit tata
kelola, dan forum dialog tetap dinilai sebagai instrumen penting untuk
memulihkan kepercayaan,” tegasnya.
Ia merekomendasikan
langkah prioritas yang meliputi pemulihan pendapatan buruh, penyusunan forum
dialog terstruktur antara perusahaan dan warga, serta pembaruan narasi BRK yang
berbasis data dan roadmap pemulihan. “Branding tidak boleh berhenti pada
slogan. Kepercayaan publik hanya kembali jika perubahan terasa di lapangan,”
tutupnya.
Keterangan Lebih Lanjut:
Holding Perkebunan Nusantara
PT Perkebunan Nusantara III
(Persero)
Telp: +6221 29183300
Ponsel: +6281370835057
email : sekretariat@holding-perkebunan.com






