- Pulihkan Akses 3 Desa Langkat, PTPN Group Sinergi Lintas Instansi Bangun Jembatan Bailey
- Kunjungi PT SPMN, Direktur Keuangan & Manajemen Risiko PTPN III (Persero) Dorong Peningkatan Mutu La
- Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Kebersamaan Lewat Safari Ramadan PTPN I Regional 7 di Tulungbu
- Holding Perkebunan Nusantara Hadirkan Destinasi Wisata Berbasis Kemitraan di Lampung Selatan
- Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Integritas Lewat Program “Kasmaran” PTPN I
- Aksi Bersih Lingkungan PalmCo, Wujud Komitmen Holding Perkebunan Nusantara Menuju Indonesia Asri
- Perkuat Pengamanan Aset HGU, PTPN Group Gandeng Kejati Lintas Provinsi
- Holding Perkebunan Nusantara Selaraskan Strategi TI 2026 Lewat FGD Terintegrasi
- Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV Regional V Bahas Hilirisasi Ayam Terintegrasi Bersama D
- Ikuti Rakor Pemasaran PTPN Group 2026, PT KBPN Dukung Penyempurnaan Tata Kelola
Pekerja Perkebunan Nusantara Sampaikan Aspirasi Konflik Lahan Ijen kepada Pemkab Bondowoso

Keterangan Gambar : Pekerja Perkebunan Nusantara Sampaikan Aspirasi Konflik Lahan Ijen kepada Pemkab Bondowoso
Bondowoso
—
Ribuan pekerja yang tergabung dalam Serikat Pekerja Perkebunan Nusantara XII
(SPBUN NXII) menggelar aksi damai di Kantor Pemerintah Kabupaten Bondowoso,
Selasa (6/1), guna menyampaikan aspirasi terkait konflik lahan yang hingga kini
belum terselesaikan di kawasan Java Coffee Estate (JCE) dan Kebun Blawan,
wilayah perkebunan kopi negara yang berada di bawah pengelolaan Holding Perkebunan
Nusantara.
Ribuan
pekerja yang tergabung dalam Serikat Pekerja Perkebunan Nusantara XII (SPBUN
NXII) mendatangi Kantor Pemerintah Kabupaten Bondowoso. Dengan aksi damai,
mereka menyuarakan kekecewaan atas konflik berkepanjangan di kawasan Kebun Java
Coffee Estate (JCE) dan Kebun Blawan, kawasan perkebunan kopi negara di bawah
pengelolaan PTPN yang berada di sekitar Ijen.
Aksi
tersebut bukan sekadar tuntutan normatif. Ia menjadi potret kelelahan
psikologis para pekerja yang sejak September 2023 bekerja dalam bayang-bayang
ketidakpastian hukum, intimidasi, dan ancaman keselamatan.
Baca Lainnya :
- Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) Dorong Semangat Kebersamaan Insan KPBN di Awal 20260
- Dari RPN untuk Negeri, Peneliti Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) Raih Penghargaan Pem0
- PTPN IV Regional III, Entitas Holding Perkebunan Nusantara Tanam 10.500 Pohon Sepanjang 2025 di Prov0
- Mentan Amran Dorong Hilirisasi Perkebunan, PTPN Group Siap Perkuat Swasembada Gula Nasional di Jawa 0
- Dorong Keberlanjutan Sawit Rakyat, Holding Perkebunan Nusantara Melalui PTPN IV Regional V Kawal P0
“Kami
hanya ingin bekerja dengan tenang,” kata Ketua SPBUN NXII, Bramantyo, di
hadapan massa. “Konflik ini sudah terlalu lama dibiarkan. Dampaknya kami
rasakan setiap hari, bukan hanya pada pekerjaan, tetapi juga pada keluarga
kami.”
Kebun Rusak, Rasa Aman
Hilang
Data
internal perusahaan menunjukkan skala kerusakan yang tidak kecil. Sejak konflik
mencuat pada 2023 hingga akhir 2025, tercatat sekitar 237.605 pohon kopi
produktif di lahan seluas kurang lebih 170 hektar rusak akibat penebangan dan
perusakan ilegal. Total kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp 13,5 miliar.
Angka
itu bukan sekadar statistik. Bagi pekerja kebun, setiap pohon kopi yang
ditebang berarti berkurangnya jam kerja, ancaman terhadap keberlanjutan
produksi, dan pada akhirnya, ketidakpastian pendapatan. Di kawasan Ijen–Blawan,
satu keluarga bisa bergantung sepenuhnya pada siklus panen kopi yang
berlangsung setahun sekali.
Situasi
memburuk sepanjang 2025. Setelah sempat mereda, aksi perusakan kembali terjadi
dengan skala lebih masif dan terorganisir. Puluhan ribu pohon kopi ditebang
dalam rentang Oktober hingga Desember. Akses menuju sejumlah afdeling ditutup
dengan portal kayu, posko-posko ilegal bermunculan, dan mobilitas pekerja
semakin terbatas. “Berangkat kerja sekarang bukan hanya soal target produksi,
tapi juga rasa takut,” ujar seorang pekerja yang ikut aksi, enggan disebutkan
namanya. Ia mengaku istrinya kerap cemas setiap kali ia berangkat pagi-pagi ke
kebun. “Anak-anak kami ikut merasakan. Mereka mendengar cerita ancaman,
perusakan rumah dinas. Ini sudah jadi trauma kolektif.”
Konflik Agraria yang
Membeku
Kawasan
Java Coffee Estate dan Blawan bukan wilayah sembarangan. Selain menjadi tulang punggung
ekonomi lokal, kawasan ini juga masuk dalam ekosistem kopi Ijen-Raung yang
dikenal secara internasional. Kopi arabika dari wilayah ini diekspor dan
menjadi bagian dari reputasi kopi Indonesia di pasar dunia.
Namun,
konflik agraria yang berlarut-larut membuat potensi itu tergerus. Pekerja
menilai negara absen dalam memastikan penegakan hukum atas lahan Hak Guna Usaha
(HGU) yang dikelola PTPN. Padahal, menurut mereka, konflik telah menjurus pada
perusakan aset negara dan ancaman nyata terhadap keselamatan warga.
Dalam
tuntutannya, SPBUN NXII meminta Bupati Bondowoso mengambil peran aktif memimpin
penegakan hukum yang tegas dan adil. Mereka juga mendorong pembentukan tim
investigasi independen untuk mengusut tuntas perusakan kebun, intimidasi, dan
ancaman yang terjadi tanpa intervensi kepentingan apa pun. “Ini bukan soal
membela perusahaan semata,” kata Bramantyo. “Ini soal keberlanjutan kerja
ribuan keluarga dan wibawa hukum negara.”
Drama Sosial di Balik
Hamparan Kopi
Di
balik hijau kebun kopi Ijen, drama sosial itu berlangsung senyap. Rumah-rumah
dinas yang rusak, jalan kebun yang dipalang, dan rasa waswas yang mengendap di
benak pekerja menjadi keseharian baru. Konflik yang dibiarkan membeku tidak
hanya merusak tanaman, tetapi juga merapuhkan tatanan sosial di komunitas
perkebunan.
Bagi
para pekerja, aksi damai ini adalah seruan terakhir agar negara hadir. Mereka
tidak menuntut keistimewaan, melainkan kepastian: bahwa hukum ditegakkan,
keamanan dijamin, dan mereka bisa kembali bekerja dengan martabat.
“Yang
kami minta sederhana,” ujar seorang pekerja perempuan sambil menggendong
anaknya di sela aksi. “Kami ingin kebun ini kembali aman. Supaya suami kami
pulang kerja tanpa rasa takut, dan anak-anak kami punya masa depan.”
Di
Ijen, kopi memang tumbuh dari tanah vulkanik yang subur. Namun, tanpa kehadiran
negara dan kepastian hukum, yang tumbuh hari ini justru kekecewaan—dan luka
sosial yang kian dalam.






