- Pulihkan Akses 3 Desa Langkat, PTPN Group Sinergi Lintas Instansi Bangun Jembatan Bailey
- Kunjungi PT SPMN, Direktur Keuangan & Manajemen Risiko PTPN III (Persero) Dorong Peningkatan Mutu La
- Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Kebersamaan Lewat Safari Ramadan PTPN I Regional 7 di Tulungbu
- Holding Perkebunan Nusantara Hadirkan Destinasi Wisata Berbasis Kemitraan di Lampung Selatan
- Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Integritas Lewat Program “Kasmaran” PTPN I
- Aksi Bersih Lingkungan PalmCo, Wujud Komitmen Holding Perkebunan Nusantara Menuju Indonesia Asri
- Perkuat Pengamanan Aset HGU, PTPN Group Gandeng Kejati Lintas Provinsi
- Holding Perkebunan Nusantara Selaraskan Strategi TI 2026 Lewat FGD Terintegrasi
- Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV Regional V Bahas Hilirisasi Ayam Terintegrasi Bersama D
- Ikuti Rakor Pemasaran PTPN Group 2026, PT KBPN Dukung Penyempurnaan Tata Kelola
Presiden Dorong Hilirisasi Gambir, PTPN Group Siap Perkuat Nilai Tambah Komoditas Rakyat

Keterangan Gambar : Presiden Dorong Hilirisasi Gambir, PTPN Group Siap Perkuat Nilai Tambah Komoditas Rakyat
Karawang – Presiden
Republik Indonesia Prabowo Subianto menyatakan pentingnya penguatan hilirisasi
dan pemanfaatan teknologi dalam sektor pertanian dan perkebunan sebagai
strategi utama meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat daya
saing ekonomi nasional. Pernyataan tersebut disampaikan Presiden saat meninjau
panen raya serta pengumuman swasembada pangan di Karawang, Jawa Barat
(8/1/2025).
Dalam
kunjungan tersebut, Presiden meninjau pemanfaatan alat dan mesin pertanian
modern sekaligus melihat sejumlah produk hilirisasi berbasis komoditas unggulan
nasional. Salah satu komoditas yang menarik perhatian adalah gambir, tanaman endemik Indonesia yang
dinilai memiliki potensi ekonomi global yang besar.
Presiden
menekankan bahwa Indonesia tidak boleh terus berada pada posisi sebagai pemasok
bahan mentah. Menurutnya, komoditas seperti gambir perlu didorong untuk diolah
lebih lanjut di dalam negeri agar memberikan nilai tambah yang lebih besar,
membuka peluang industri baru, serta meningkatkan pendapatan petani di sentra
produksi.
Baca Lainnya :
- Holding Perkebunan Nusantara Sudah Serap 2.548 Tenaga Kerja Lokal Riau melalui PTPN IV Regional III0
- Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Fasilitas Desa melalui Program TJSL PTPN IV Regional V di Paser0
- Wujud Kepedulian Holding Perkebunan Nusantara, PT Sri Pamela Bantu Penghuni Rumah Dinas Terdampak Ba0
- Pekerja Perkebunan Nusantara Sampaikan Aspirasi Konflik Lahan Ijen kepada Pemkab Bondowoso0
- Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) Dorong Semangat Kebersamaan Insan KPBN di Awal 20260
Dorongan
tersebut menjadi sinyal kuat bagi BUMN sektor perkebunan, termasuk entitas di
bawah Holding Perkebunan Nusantara PTPN
III (Persero), untuk mengambil peran lebih aktif dalam membangun
ekosistem hilirisasi berbasis riset, teknologi, dan kemitraan dengan petani
rakyat.
Gambir:
Potensi Strategis Bernilai Global
Direktur
Utama PTPN IV PalmCo, subholding
kelapa sawit di bawah Holding Perkebunan Nusantara, Jatmiko K. Santosa, menjelaskan bahwa gambir merupakan komoditas
yang selama ini kurang mendapat perhatian publik, meskipun memiliki keunggulan
kuat di pasar internasional.
“Kalau
orang mendengar gambir, biasanya langsung teringat dengan sirih. Padahal gambir
itu produk strategis. Bahkan ada negara yang sekitar 90 persen kebutuhan
gambirnya dipasok dari Indonesia,” kata Jatmiko.
Ia
menambahkan bahwa gambir memiliki kandungan antioksidan yang sangat tinggi,
bahkan melebihi green tea yang selama ini dikenal luas sebagai produk
kesehatan. Kandungan tersebut membuka peluang pengembangan berbagai produk
turunan bernilai tambah.
“Gambir
bisa menjadi berbagai bahan pangan seperti teh dan juga bahan baku kosmetik,
sabun, sampo, hingga kebutuhan industri. Tanin nya bahkan digunakan sebagai
bahan tinta pemilu. Ini menunjukkan betapa luasnya pemanfaatan gambir,”
ujarnya.
Menurut
Jatmiko, sebagian besar gambir Indonesia hingga kini masih diekspor dalam
bentuk bahan mentah. Kondisi tersebut menyebabkan nilai tambah lebih banyak
dinikmati oleh negara pengolah. Karena itu, hilirisasi dinilai menjadi langkah
krusial agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh petani dan
masyarakat di dalam negeri.
Peningkatan
Produktivitas sebagai Langkah Awal
Jatmiko
menekankan bahwa langkah awal pengembangan gambir adalah peningkatan
produktivitas di tingkat petani. Saat ini, produktivitas gambir rakyat masih
berada di kisaran 0,5 ton per hektare.
“Dengan
pendekatan riset dan metode pengolahan daun gambir yang lebih baik,
produktivitas itu bisa ditingkatkan menjadi 0,75 ton bahkan hingga 1 ton per
hektare. Artinya, ada potensi peningkatan 50 sampai 100 persen. Dampaknya
langsung ke pendapatan petani,” jelasnya.
Upaya
tersebut akan diperkuat dengan rencana pembangunan fasilitas pengolahan gambir
yang disesuaikan dengan hasil riset dan kebutuhan pasar. Menurutnya,
pembangunan industri hilir harus sejalan dengan permintaan pasar agar
berkelanjutan.
“Kita
tidak bisa hanya membangun pabrik tanpa melihat pasar. Produk apa yang paling
cepat diterima, punya permintaan kuat, dan berpeluang dikuasai pasar, itu yang
harus kita dorong lebih dulu,” kata Jatmiko.
Dukungan
Akademik dan Keunggulan Geografis
Dari
sisi akademik, Peneliti sekaligus Direktur Kerja Sama dan Hilirisasi Riset
Fakultas Teknologi Pertanian Universitas
Andalas, Dr.Eng Muhammad Makky,
S.TP, M.Si, menegaskan bahwa gambir memiliki keunggulan geografis yang
sangat spesifik.
“Secara
geografis, Sumatera merupakan kawasan endemik tanaman gambir. Gambir tumbuh di
Sumatera Barat, Sumatera Utara, sebagian Aceh, Riau, dan Kepulauan Riau. Namun
yang paling mendukung dari sisi kondisi abiotik dan ekosistemnya adalah
Sumatera Barat dan Sumatera Utara,” jelasnya.
Menurut
Dr. Makky, keunggulan alam tersebut menjadikan gambir sulit dikembangkan di
negara lain. Namun, keunggulan komparatif tersebut perlu diperkuat dengan
peningkatan produktivitas dan penguatan industri hilir.
“Keunggulan
komparatifnya sudah ada. Tantangannya sekarang adalah bagaimana meningkatkan
produktivitas dan memastikan hasil gambir diolah menjadi produk bernilai
tinggi. Di sinilah riset dan teknologi memegang peranan penting,” ujarnya.
Sebagai
mantan konsultan Bank Dunia, ia menilai bahwa kolaborasi antara BUMN, perguruan
tinggi, dan petani menjadi kunci agar pengembangan gambir dapat berjalan
berkelanjutan dan memberikan dampak ekonomi yang luas.
Momentum
Hilirisasi Komoditas Rakyat
Dorongan
Presiden terhadap hilirisasi gambir dinilai sebagai momentum penting bagi
pengembangan komoditas rakyat berbasis keunggulan lokal. Melalui sinergi riset,
peningkatan produktivitas, dan pembangunan industri pengolahan, gambir
berpotensi menjadi produk unggulan ekspor sekaligus motor penggerak ekonomi
daerah di sentra produksi Sumatera.
Upaya
tersebut sejalan dengan komitmen Holding
Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) dalam mendorong hilirisasi
komoditas perkebunan nasional guna menciptakan nilai tambah, memperkuat
ketahanan pangan, serta meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.






