- Pulihkan Akses 3 Desa Langkat, PTPN Group Sinergi Lintas Instansi Bangun Jembatan Bailey
- Kunjungi PT SPMN, Direktur Keuangan & Manajemen Risiko PTPN III (Persero) Dorong Peningkatan Mutu La
- Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Kebersamaan Lewat Safari Ramadan PTPN I Regional 7 di Tulungbu
- Holding Perkebunan Nusantara Hadirkan Destinasi Wisata Berbasis Kemitraan di Lampung Selatan
- Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Integritas Lewat Program “Kasmaran” PTPN I
- Aksi Bersih Lingkungan PalmCo, Wujud Komitmen Holding Perkebunan Nusantara Menuju Indonesia Asri
- Perkuat Pengamanan Aset HGU, PTPN Group Gandeng Kejati Lintas Provinsi
- Holding Perkebunan Nusantara Selaraskan Strategi TI 2026 Lewat FGD Terintegrasi
- Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV Regional V Bahas Hilirisasi Ayam Terintegrasi Bersama D
- Ikuti Rakor Pemasaran PTPN Group 2026, PT KBPN Dukung Penyempurnaan Tata Kelola
Dua Subholding PTPN III (Persero) Perkuat Kebangkitan Kopi Ijen, PTPN IV PalmCo dan PTPN I Replantin

BONDOWOSO — Upaya kebangkitan
kopi Arabika dari lereng Ijen, Bondowoso, mulai menunjukkan hasil. Dalam tiga
tahun terakhir, dua subholding PTPN III (Persero), yakni PT Perkebunan
Nusantara (PTPN) IV PalmCo bersama PTPN I melalui skema Kerja Sama Operasi
(KSO) di Java Coffee Estate (JCE), berhasil melakukan peremajaan atau
replanting tanaman kopi seluas lebih dari 1.300 hektare. Langkah ini menjadi
bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi kopi Arabika
Indonesia di pasar global.
Direktur Utama PTPN IV
PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyebut replanting bukan semata mengganti tanaman
tua, melainkan investasi masa depan bagi industri kopi nasional. “Kami tidak
hanya menanam pohon kopi, tapi menanam masa depan,” ujarnya, Jumat (14/11).
Program replanting di
JCE dimulai pada 2022 dan dilakukan bertahap. Sebanyak 383 hektare kebun
diperbarui pada tahun pertama, disusul 251 hektare pada 2023, 407 hektare di
2024, dan ditargetkan 293 hektare pada 2025. Total kebun yang dikelola oleh JCE
sendiri mencapai 3.530 hektare.
Baca Lainnya :
- Dukung Agenda Keberlanjutan Holding Perkebunan Nusantara, PTPN I Regional 2 Tanam Ribuan Pohon dalam0
- Hilirisasi Komoditas Kelapa, PTPN I Wujudkan Program Strategis Holding Perkebunan Nusantara0
- Di Bawah Holding Perkebunan Nusantara, PTPN I Siapkan Banyuwangi sebagai Model Kebun Kelapa Genjah N0
- PTPN IV PalmCo Regional VII, Anak Perusahaan Holding Perkebunan Nusantara, Sabet Penghargaan Respond0
- Transformasi PalmCo Berbuah Hasil, PTPN IV di Bawah Holding Perkebunan Nusantara Tingkatkan Produkti0
Bibit Arabika yang
digunakan merupakan varietas unggul yang adaptif terhadap iklim pegunungan Ijen
serta menghasilkan cita rasa khas. Penerapan praktik agronomi juga
mengedepankan konservasi tanah dan air, dua unsur vital di kawasan lereng
vulkanik yang rentan erosi. “Replanting ini adalah investasi hijau. Kami ingin
kebun tetap produktif tanpa mengorbankan keseimbangan lingkungan,” kata
Jatmiko.
Produktivitas Terjaga, Ekspor Menguat
Menariknya, proses
peremajaan besar-besaran ini tidak menurunkan kinerja produksi. Sepanjang 2025,
produksi kopi ceri JCE tercatat mencapai 5.534 ton, naik dibanding 4.987 ton
pada tahun sebelumnya. Sementara volume green bean atau biji kopi siap ekspor
meningkat dari 825 ton menjadi 893 ton.
Produktivitas lahan pun
stabil di kisaran 2.530 kilogram kopi ceri per hektare dan 409 kilogram green
bean per hektare. Hingga Oktober 2025, JCE membukukan laba bersih sekitar Rp14
miliar.
Kinerja positif itu
menjadi bukti bahwa pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan dapat berjalan
beriringan. “Pasar dunia kini menuntut transparansi dan tanggung jawab. Mereka
ingin tahu dari mana kopi berasal dan bagaimana ia ditanam. Kami menjawab
tuntutan itu melalui praktik yang bertanggung jawab dari hulu ke hilir,” kata
Jatmiko.
Dari Lereng Ijen ke Pasar Dunia
Kopi Arabika Ijen
dikenal memiliki karakter cita rasa yang khas, body ringan hingga sedang, aroma
bunga, serta keasaman seimbang. Kombinasi itu menjadikan kopi JCE mulai
menembus pasar ekspor di Asia Timur, Eropa, dan Amerika Utara. “Kopi Ijen punya keunggulan yang tak banyak
dimiliki daerah lain. Dunia perlu tahu bahwa kopi terbaik juga tumbuh di Bondowoso,
bukan hanya di Amerika Latin,” ujar Jatmiko menambahkan.
Sinergi BUMN dan Masyarakat
Kolaborasi antara PTPN
IV dan PTPN I melalui skema KSO terbukti efektif dalam mempercepat pemulihan
produktivitas kebun. Kedua BUMN berbagi peran dalam pengelolaan aset,
manajemen, dan peningkatan mutu produksi.
Namun, bagi Jatmiko,
keberlanjutan sejati tidak hanya diukur dari tonase panen atau laba perusahaan.
“Kami ingin masyarakat tumbuh bersama
kami. Dari pekerja kebun, petani mitra, hingga generasi muda di sekitar Ijen, semua
harus merasa punya masa depan dari kopi ini,” tuturnya.
Dengan fondasi yang
kuat di tingkat kebun dan tata kelola berkelanjutan, kopi Arabika dari lereng
Ijen kian siap memperkenalkan cita rasa Indonesia ke panggung dunia.






